Bab
I
Pendahuluan
1.1.
LATAR BELAKANG
Setiap kebudayaan adalah sebagai jalan atau arah di
dalam bertindak dan berpikir, sehubungan dengan pengalaman-pengalaman yang
fundamental, dari sebab itulah kebudayaan tidak dapat dipisahkan dengan
individu dan masyarakat. Seperti, Indonesia yang mempunyai berbagai macam suku,
ras, adat, dan budaya serta alam lainnya. Indonesia juga kaya akan budaya.
Namun seiring berkembangnya zaman era globalisasi, Kebudayaan Indonesia mulai
luntur. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi. Dengan demikian
pola pikir Indonesia terpengaruh pola budaya Barat, sehingga mereka melupakan
kebudayaannya sendiri. Selain itu pemerintah terlihat asal-asalan dan tidak
menanggapi dengan serius dalam mengurusi kebudayaan di Negara kita, sehingga
dengan mudahnya Negara lain mengakui kebudayaan Indonesia sebagai
kebudayaannya.
1.2.
RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa kebudayaan bangsa indonesia tidak dapat
berkembang, dan tidak dapat dikembangkan oleh masyarakat indonesia sendiri ?
2. Bagaimana hubungan peradaban dan kebudayaan ?
3. Apakah penyebab masyarakat sekarang lebih memeilih
permainan modern dari pada permainan
tradisional ?
4.
Sejauh
mana permainan tradisional enggrang batok dikenal oleh masyarakat indonesia ?
1.3.
SISTEMATIKA PENELITIAN
Untuk
memberikan gambaran secara garis besar mengenai objek-objek penelitian yang akan
dibahas dalam Jurnal ini, maka kami membagi bahasan bahasan tersebut menjadi 5
(Lima) Bab :
Bab
I : Pendahuluan, yang isinya membahas mengenai latar belakang
penelitian, rumusan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.
Bab
II : Review Literatur, Pada
bab ini membahas review literatur yang berisi
tentang definisi–definisi atau istilah–istilah yang digunakan dalam
pembahasan jurnal.
Bab
III : Metodelogi
Penelitian,
Pada bab ini membahas metodelogi yang berisi tentang
cara-cara dan langkah –langkah penelitian suatu permainan tradisional yaitu
(enggrang batok) yang digunakan dalam pembahasan jurnal.
Bab
IV : Pembahasan Masalah,
Pada bab ini membahas tentang hasil dari penelitian yang dilakukan dengan
metodelogi kuesioner
yang berisi tentang permainan tradisional enggrang batok yang digunakan dalam
pembahasan junal
Bab V : Kesimpulan dan Saran, dalam bab ini kami member kesimpulan atas
masalah yang dibahas dan saran-saran yang dirasa perlu kami sampaikan pada
pihak-pihak yang terlibat.
Demikian gambaran-gambaran dari
seluruh bahasan yang kami ajukan sebagai hasil dari penelitian Jurnal kami
selama ini.
1.4.MANFAAT PENELITIAN
Manfaat
dari penetitian kami yaitu ;
·
Membuka pola pikir yang baru untuk
memperbaiki diri dan lebih peduli untuk
masa depan bangsa.
·
Mengingatkan pada pembaca akan
pentingnya budaya bangsa kita khususnya
permainan tradisional yang merupakan karakter sebuah bangsa.
·
Mengingatkan pada kita bahwa sudahkah
kita bercermin untuk bangga dan melestarikan budaya bangsa ?
·
Memberi motivasi pada pembaca untuk
lebih menanamkan rasa cinta tanah air.
Bab
II
REVIEW LITERATURE
Kebudayaan
+ cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab),
berasal dari perkataan Latin “colere”
yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan,
terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti
culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah
alam”
Ditinjau
dari saudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta
“buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Pendapat
lain menatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata
majemuk budidaya, berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara
budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa
dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.
Mengenai
definisi “Kebudayaan”, telah banyak sarjana sarjana ilmu social yang mencoba
menerangkan, atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya. Ada 2 orang
sarjana antropologi yaitu A.L Kroeber dan C. kluckhohn, yang pernah
mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentanf paham kebudayaan yang termasuk
dalam banyak buku-buku yang berasal dari banyak pengarang dan sarjana. Terbukti
ada 160 macam definisi tentang kebudayaan, yang kemudian dianalisis dicari
intinya dan klasifikasikan dalam berbagai golongan, dan kemudian hasil
penyelidikan itu diterbitkan dalam suatu kitab bernama “Culture, A critical
Review of Concepts and Definitions 1952”.
Adapun
ahli Antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis
dan ilmiah adalah E.B Taylor, yang menulis dalam bukunya yang terkenal:
“Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang
didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum,
adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh
manusia sebagai anggota masyarakat.
Definisi
lain dikemukakan oleh R. Linton dalam buku : :the Cultural background of
personality” , bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang
dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentuknya didukung dan
diteruskan oleh
anggota dari masyarakat tertentu.
C.
Kluckhohn dan W.H Kelly mencoba merumuskan definisi tentang kebudayaan sebagai
hasil tanya jawab denga ahli-ahli antropologi, ahli hokum ahli psikologi, ahli
sejarah, filsafat dan lain-lain. Rumusan itu berbunyi bahwa: kebudayaan adalah
pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah, yang explisit, inplisit,
rasional, irrasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman-pedoman
yang potensial bagi tingkah laku manusia.
Dari
definisi-definisi tersebut diatas dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa bagi
ilmu social, arti kebudayaan adalah amat luas, yang meliputi kelakuan dan hasil
kelakuan manusia, yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkan dengan
belajar dan yang semuanya tersususn dalam kehidupan masyarakat. Dan didalam
bahsa Inggris kata culture itu dalam abad yang lalu mengalami pergeseran arti
sebagai berikut:
a. A
general state or habit of the mind.
b. The
general state of intellectual development in a Sosiety as a whole.
c. The
general body of the arts.
d. A
whole way of life, material, intellectual and spiritual.
Di
dalam masyarakat ramai kebudayaan sering diartikan sebagai general body of the
arts, yang meliputi seni sastra, seni music, seni pahat, seni rupa, pengetahuan
filsafat atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia. Dalam penggunaan
seperti ini pengertian kebudayaan di tepmpatkan di samping pengertian ekonomi,
politik, hokum, sedang dalam pengertian ilmu social kebudayaan adalah seluruh
cara hidup sesuatu masyarakat.
Di
samping definisi-definisi tersebut diatas, masih banyak definisi yang
dikemukakan oleh para sarjana-sarjan Indonesia, seperti:
1. Sultan
Takdir Alisyahbana : kebudayaan adalah manifestasi dari suatu bangsa.
2. Dr.
moh. Hatta : kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
3. Mangunsarkoro
: kebudayaan adalah segala bersifat hasil kerja manusia dalam arti yang
seluas-luasnya.
4. Haji
agus salim : kebudayaan adalah merupakan persatuan istilah budi dan daya
menjadi makna sejiwa dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
5. Dawson
dalam bukunya : “Age of the Gods”, kebudayaan adalah cara hidup bersama
(Culture is a common way of life)
6. E.B
Taylor (sarjana Inggris) dalam bukunya : “Primitive Culture” 1873; Culture is that complex whole which
includes knowledge, belief, art, morals, law, custom and any other capabilities
acquired by man as a member of society. Maksunya : kebudayaan adalah suatu satu
kesatuann ataiu jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, susila, hokum, adat-istiadat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang
diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
7. Drs.
Sidi Gazalba : kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri
dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia, yang membentuk kesatuan
social dalam suatu ruang dan suatu waktu.
8. R.Linton
, kebudayaan adalah dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang
dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari,dimana unsure pembentuknya
didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
9. Selo
Soermardjan dan Soelaeman Soenardi , mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua
hasil karya ,rasa ,dan cipta masyarakat .
10. Herkovits
, kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia .
11. Murdowo , mengatakan bahwa kultur itu mengenai
nilai kerohanian ,moral,etik,dan estetik yang telah dicapai oleh suatu bangsa .[1]
Sepintas
lalu definisi-definisi tersebut kelihatan bebeda-beda, namun sebenarnya
prinsipnya sama, yaitu sama-sama mengakui adanya ciptaan manusia. Dapatlah
kiranya ini kita tarik kesimpulan bahwa : kebudayaan adalah hasil buah budi
manusaia untuk mencapai keswempurnaan hidup.
Hasil buah budi
(budaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi 2 macam:
1. Kebudayaan
material (lahir), yaitu kebudayaan yang berwujud kebendaan, misalnya : rumah,
gedung, alat-alat senjata, mesin-mesin, pakaian dan sebagainya.
2. Kebudayaan
immaterial (spiritual=batin), yaitu : kebudayaan adat istiadat, bahasa, ilmu
pengetahuan dan sebagainya.[2]
Definisi permainan tradisional egrang batok. Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang
belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di
berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti : sebagian wilayah Sumatera
Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang
dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama
Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri
berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari
bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut
batungkau.[3]
Bab
III
METODE
PENELITIAN
Pengolahan dan penyajian data dalam penelitian ini,
dilakukan secara kuantitatif. Menurut Nawawi, jenis penelitian kuantitatif
memiliki prosedur yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan dan dapat
dilakukan pengujian tenteng kebenaran atau tingkat validitas dan reliabilitas
hasil penelitian berupa kesimpulan-kesimpulan yang dirumuskan peneliti. [4]
3.1. Teknik
Pengumpulan Data
Data-data merupakan faktor
terpenting yang sangat diperlukan dalam penyusunan Jurnal ini, untuk memperoleh
data-data tersebut maka kami menggunakan cara-cara berikut :
a. Studi
Kepustakaan (Library Research)
Data diperoleh dengan
membaca dan mempelajari sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan ruang
lingkup penelitian, baik berupa buku literature, tulisan ilmiah, dan
dokumen-dokumen.
b. Penelitian
Lapangan (Field Research)
Untuk memperoleh data lapangan atau di
lokasi penelitian digunakan cara :
1) Teknik
Kuesioner
Yaitu
suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis kepada
responden melalui daftar pertanyaan berdasarkan indicator yang ada, dimana
setiap pertanyaan dilengkapi dengan beberapa alternative jawaban.
2) Teknik
Wawancara (Interview)
Yaitu
suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab secara
langsung dengan responden. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik
wawancara (interview guide) tidak dirumuskan secara ketat, guna memberikan
keleluasaan kepada responden untuk mengekspresikan jawabannya. Secara khusus
teknik ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui teknik
kuesioner diatas.
3) Teknik
Observasi
Yaitu
suatu teknik pengumpulan data dengan mengadakan langsung terhadap obyek yang
diteliti, dengan berada langsung di lokasi obyek penelitian, yaitu Lingkung
Seni Sanggar Anggitasari dan Sanggar Boerayot di Parungkuda Kabupaten Sukabumi.
3.2. Instrumen
Penelitian
Instrumen penelitian merupakan suatu
alat yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang diperlukan
dengan menggunakan suatu metode yang merupakan transformasi konsep yang telah
dioperasionalkan. Untuk pengumpulan data penulis menggunakan instrument
penelitian erupa kuesioner yang dibagikan
kepada responden, berisi daftar pertanyaan yang merupakan penjabaran dari
indicator-indikator penelitian.
Bab
IV
PEMBAHASAN
4.1.
BUDAYA
Memudarnya rasa cinta terhadap kebudayaan bangsa ini
membuat kami tertarik mengangkat materi tentang minimnya bentuk apresiasi
masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan lokal khususnya dalam wujud permainan tradisional yang terlupakan seperti,
permainan enggrang batok. Sebagaimana
mestinya yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Koentjoroningrat tentang wujud
kebudayaan.
Wujud pertama adalah wujud ideal kebudayaan.
Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto. Letaknya dalam alam pikiran
manusia. Sekarang kebudayaan ideal ini banyak tersimpan dalam arsip kartu
computer, pita computer, dan sebagainya. Ide-ide dan gagasan manusia ini banyak
yang hidup dalam masyarakat dan memberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan
itu tidak terlepas satu sama lain melainkan saling berkaitan menjadi suatu
system, disebut system budaya atau cultural system, yang dalam bahasa
indonesianya disebut adat istiadat.
Wujud kedua adalah wujud system social. Mengenai
tindakan berpola manusia itu sendiri. System social ini terdiri dari aktifitas-aktifitas
manusia yang berinteraksi satu dan yang lainnya dari waktu kewaktu, yang selalu
menurut pola tertentu. System social ini bersifat konkret, sehingga bias di
observasi, difoto dan di documentir.
Wujud ketiga adalah yang disebut kebudayaan fisik,
yaitu sangat konkret berupa benda-benda yang bisa diraba, difoto dan dilihat.
Ketiga wujud kebudayaan tersebut diatas dalam kehidupan masyarakat tidak
terpisah satu dengan yang lainnya. Kebudayaan ideal dan adat istiadat megatur
dan mengarahkan tindakan manusia baik gagasan, tindakan dan karya manusia,
menghasilkan benda-benda kebudayaan secara fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik
membentuk lingkungan hidup tertentu yang makin menjauhkan manusia dari
lingkungan alamnya sehingga bisa mempengaruhi pola berpikir dan berbuatnya. [5]
Namun seiring berkembangnya zaman,
kebudayaan di Indonesia mulai luntur. khususnya kebudayaan lokal di bidang permainan
tradisional. Hal ini dikarenakan semakin
berkembangnya teknologi yang mempunyai dampak negatif terhadap kebudayaan
Indonesia. Budaya global semakin lama telah menggusur budaya lokal Indonesia.
Kebudayaan nasional adalah kebudayan
kita bersama yakni kebudayaan yang mempunyai makna bagi kita bangsa
indonesia. Kalau bukan kita lalu siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikannya. Seharusnya sebagai warga
negara indonesia patut bangga dengan mempunyai kekayaan budaya. Hal ini
sebenarnya akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan
tersebut. Sebagai warga negara kita hendaknya menanggapi dengan arif pengaruh
nilai-nilai budaya barat untuk mengembangkan dan memperkaya, serta meningkatkan
kebudayaan nasional dengan cara menyaring kebudayaan itu. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara mengambil nilai yang baik dan meninggalkan nilai yang
tidak sesuai dengan kebudayaan kita.
Arus
modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit untuk
dikendalikan , terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk keseluruh
belahan dunia, hal ini membawa pengaruh bagi seluruh bangsa didunia termasuk
didalamnya budaya indonesia
Arus
informasi yang berkembang cepat menumbuhkan cakrawala pandangan manusia makin
terbuka luas. Ternologi yang sebenarnya merupakan alat bantu atau ekstensi
kemampuan diri manusia, dewasa ini telh menjadi sebuah kekuatan otonom yang
justru membelenggu prilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya
yang sangat besar, karena ditopang pula oleh sistem-sistem sosial yang kuat,
dan dalam kecepatan yang makin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup
manusia. Masyarakat yang rendah kemampuan teknologinya cenderung tergantung dan
hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan
teknologi.
Dengan
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ,maka dunia makin sempit ruang
dan waktu menjadi sangat relatif dan banyak hal , batas-batas negara sering
menjadi kabur dan bahkan mulai tidak relevan dingding pembatas antar bangsa
menjadi semakin terbuka bahkan mulai hanyut oleh arus perubahan. Oleh karena
itu, indonesia menghadapi kewajiban ganda yaitu disatu pihak melestarikan
budaya bangsa dan dipihak lain membangun kebudayaan nasional yang modern.
Tujuan
akhir dari kedua usaha atau kewajiban ini menurut indra siswarini[6] adalah masyarakat modern
yang tipikal indonesia, masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya
sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan
kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu dan teknologi modern maupun
menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat kearah pola hidup yang bertentangan
dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Akibat
globalisasi diantaranya masyarakat mengalami anomi atau tidak punya norma atau
heteronomi atau banyak norma sehingga terjadi kompromisme sosial terhadap
hal-hal yang sebelumnya dianggap melanggar norma tunggal masyarakat .
Selain
itu juga terjadinya disorientasi atau aliienasi, keteransingan pada diri
sendiri atau pada perlaku sendiri akibat pertemuan budaya-budaya yang tidak
sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian kita .
Kesenian dan kebudayaan merupakan dua
sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kesenian dapat menjadi wadah untuk
mempertahankan identitas budaya Indonesia. Faktanya, sekarang ini identitas
budaya Indonesia sudah mulai memudar karena arus global. Sehingga kondisi yang
mengkhawatirkan ini perlu segera diselamatkan. Hal ini semakin diperparah
dengan diakuinya budaya indonesia oleh bangsa lain. Hal ini disebabkan oleh
kurang pedulinya bangsa indonesia terhadap budayanya. Namun ketika kebudayaan
itu diakui oleh bangsa lain, indonesia bingung.
Dengan
berkurangnya tingkat kesadran masyarakat indonesia terhadap kebudayaan lokal
khususnya permainan tradisional, lambat laun permainan tradisional yang sudah
diwariskan oleh nenek moyang terlupakan dan terpengaruh oleh permainan modern
yang semakin canggih. Sehingga masyarakat indonesia lebih tertarik kepada
permainan modern terebut. Maka dari itu tak heran jika saat ini kita sangat
jarang melihat permainan tradisional dimainkan oleh masyarakat indonesia.
Masyarakat
indonesia telah mengenal permainan enggrang batok, namun pada saat ini mereka
sebatas mengenal enggrang batok sebagai permainan yang dimainkan disaat adanya perayaan-perayaan hari besar
yang ada di indonesia. Hal ini lah yang menyebabkan permainan enggrang batok
kurang dikenal oleh msyarakat indonesia.
Menyerapnya budaya Negara luar di
Indonesia telah membuat para masyarakat terutama generasi muda di Negara kita
tidak suka bahkan tidak sedikit dari mereka yang melupakan budaya negerinya
sendiri. Termasuk pemerintah yang tidak mengindahkan budaya negeri ini dengan
tidak adanya perhatian dan kurangnya fasilitas yang memungkinkan untuk
mengembangkan perkembangan budaya di negeri ini.
5.2. Permainan
Tradisional Engrang Batok
Pada
permainan batok kelapa alat yang dipergunakan adalah dua buah batok kelapa yang
dibagi dua sehingga berbentuk setengah bola. Pada bagian tengahnya dilubangi
dan dipasangi tali yang menghubungkan antara satu batok dengan batok lainnya
sepanjang kira kira 1,5 – 2 meter. Permainannya adalah berlomba secepat mungkin
berjalan menggunakan batok kelapa tadi dari satu sisi lapangan ke sisi lapangan
lainnya. Orang yang paling cepat ia lah yang menjadi pemenangnya.
Asal-usul dari Engrang Batok ialah jenis
terakhir dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa yang dipadu dengan tali
plastik atau dadung. Fungsi utama sama, seperti alat dolanan lain, yakni
diciptakan dan dibuat untuk bermain bagi dunia anak. Permainannya pun cukup
mudah. Anak-anak sekarang memang tidak harus memainkan kembali
permainan-permainan tradisional, termasuk dolanan engrang batok. Namun paling
tidak generasi tua saat ini bisa mengenalkan kepada generasi muda sekarang.
Tentu dengan harapan agar generasi muda sekarang bisa mengenal sejarah
kebudayaan nenek moyangnya, termasuk dalam lingkup permainan tradisional dan
akhirnya bisa menghargai karya dan identitas bangsanya sendiri walaupun
teknologi yang diterapkan kala itu sangat sederhana.
Permainan tradisional yang menggunakan
alat seperti permainan engrang batok ini, pada umumnya bahan dasarnya banyak
diperoleh di sekitar lingkungan anak. Batok dalam bahasa Indonesia disebut
tempurung. Tempurung yang dipakai biasanya berasal dari buah kelapa tua yang
telah dibersihkan dari sabutnya. Kemudian tempurung itu dibelah menjadi dua
bagian. Isi kelapa dikeluarkan dari tempurung. Tempurung yang terbelah menjadi
dua bagian ini kemudian dihaluskan bagian luarnya agar kaki yang berpijak di
atasnya bisa merasa nyaman. Masing-masing belahan tempurung kemudian diberi
lubang di bagian tengah. Masing-masing lubang tempurung dimasuki tali sepanjang
sekitar 1,5 - 2 meter dan diberi pengait. Tali yang digunakan biasanya tali
lembut dan kuat, bisa berupa tali plastik atau dadung yang terbuat dari untaian
serat. Jadilah sebuah permainan tradisional yang disebut engrang batok.
Para peserta permainan engrang batok
kelapa tidak terbatas untuk dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga kadang
dipakai untuk bermain anak perempuan antara usia 6-12 tahun, (TK B, Sekolah
Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP)), akan tetapi tidak menutup
kemungkinan permainan ini dilakukan oleh orang dewasa.
Permainan tradisional Engrang Batok
Kelapa tidak bisa dimainkan di dalam ruangan, melainkan harus dimainkan di luar
rumah, khususnya di tanah lapang yang berukuran luas dan tidak terbatas. Selain
itu, permainan Engrang Batok Kelapa sebaiknya dimainkan di tempat yang
beralaskan tanah, bukan di ubin atau alas lantai lainnya yang berkontur keras.
Sedangkan waktu untuk memainkan permainan Engrang Batok Kelapa sebenarnya tidak
terbatas, namun biasanya permainan ini dimainkan pada waktu pagi, siang dan
menjelang sore hari.
Cara memainkannya dengan kaki diletakkan
ke atas masing-masing tempurung, kemudian kaki satu diangkat, sementara kaki
lainnya tetap bertumpu pada batok lain di tanah seperti layaknya berjalan.
Permainan Engrang Batok Kelapa bisa dimainkan secara individu maupun kelompok.
Kadang-kadang, permainan ini di masa-masa lalu, biasa pula dipakai untuk
perlombaan. Tentu di sini anak diuji ketangkasan dan kecepatan berjalan di atas
Engrang Batok Kelapa. Anak yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh
dianggap sebagai pemenang. Namun sering pula secara individu anak bermain
egrang bathok dalam situasi santai.
Manfaat Permainan Anak menjadi
lebih kreatif Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para
pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang
ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif
menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan tradisional tidak
memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan
yang sudah umum digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan
kesepakatan para pemain. Di sini juga terlihat bahwa para pemain dituntut untuk
kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
Bisa digunakan sebagai terapi terhadap
anak. Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak,
tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk
anak-anak yang memerlukannya kondisi tersebut. Melatih insting dan ketepatan
dalam bertindak. Dengan memainkan permainan Engrang Batok Kelapa, seseorang
akan berusaha memaksimalkan instingnya agar memperoleh hasil yang baik. Selain
itu, permainan ini juga akan membiasakan seseorang berpikir cepat dan tepat
dalam melakukan sesuatu.
Meningkatkan ketahanan fisik maupun
mental. Dengan melakukan permainan Engrang Batok Kelapa, ketahanan tubuh
seseorang akan meningkat karena permainan ini membutuhkan aktivitas fisik yang
cukup prima. Selain itu, ketahanan mental pun akan meningkat karena dalam
permainan ini juga menuntut kestabilan mental. Melatih sportivitas dalam
berkehidupan. Terkadang, permainan Engrang Batok Kelapa dimainkan dalam bentuk
kelompok atau sebagai perlombaaan. Sehingga sportivitas harus tetap dijunjung.
Memupuk tingkat sosialisasi dalam
pergaulan. Permainan ini bisa dimainkan dalam bentuk perlombaan, jadi tidak
menutup kemungkinan ada sosialisasi antar pemainnya. Menjaga kelestarian
tradisi dan kearifan lokal. Permainan Engrang Batok Kelapa merupakan produk
asli Indonesia, dengan memainkan alat permainan tradisional ini, secara
langsung dapat melestarikan kebudayaan yang dimiliki Negara kita.
[1]
Murdowo,Arti Kata Kebudayaan, Pewarta PPK,1955,hal 132
[2]
Drs. Joko Tri Prasetya, dkk, Ilmu Budaya
Dasar, Rineka Cipta, hal 28-31
[4]
Hadari Nawawi, opcit, hal 26
[5]
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu
Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, Hal 301-302
[6]
Indra Siswarini dalam Elly M
Setiadi, et.al.,op.cit., hal 60