Kamis, 20 Juni 2013


Bab I
Pendahuluan
1.1. LATAR BELAKANG
Setiap kebudayaan adalah sebagai jalan atau arah di dalam bertindak dan berpikir, sehubungan dengan pengalaman-pengalaman yang fundamental, dari sebab itulah kebudayaan tidak dapat dipisahkan dengan individu dan masyarakat. Seperti, Indonesia yang mempunyai berbagai macam suku, ras, adat, dan budaya serta alam lainnya. Indonesia juga kaya akan budaya. Namun seiring berkembangnya zaman era globalisasi, Kebudayaan Indonesia mulai luntur. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi. Dengan demikian pola pikir Indonesia terpengaruh pola budaya Barat, sehingga mereka melupakan kebudayaannya sendiri. Selain itu pemerintah terlihat asal-asalan dan tidak menanggapi dengan serius dalam mengurusi kebudayaan di Negara kita, sehingga dengan mudahnya Negara lain mengakui kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaannya.

1.2. RUMUSAN MASALAH

1.      Mengapa kebudayaan bangsa indonesia tidak dapat berkembang, dan tidak dapat dikembangkan oleh masyarakat indonesia sendiri ?
2.      Bagaimana hubungan peradaban dan kebudayaan ?
3.      Apakah penyebab masyarakat sekarang lebih memeilih permainan modern  dari pada permainan tradisional ?
4.      Sejauh mana permainan tradisional enggrang batok dikenal oleh masyarakat indonesia ?





1.3. SISTEMATIKA PENELITIAN
Untuk memberikan gambaran secara garis besar mengenai objek-objek penelitian yang akan dibahas dalam Jurnal ini, maka kami membagi bahasan bahasan tersebut menjadi 5 (Lima) Bab :
Bab I               : Pendahuluan, yang isinya membahas mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.
Bab II              : Review Literatur, Pada bab ini membahas review literatur yang berisi  tentang definisi–definisi atau istilah–istilah yang digunakan dalam pembahasan jurnal.
Bab III            : Metodelogi Penelitian, Pada bab ini membahas metodelogi yang berisi tentang cara-cara dan langkah –langkah penelitian suatu permainan tradisional yaitu (enggrang batok) yang digunakan dalam pembahasan jurnal.
Bab IV            : Pembahasan Masalah, Pada bab ini membahas tentang hasil dari penelitian yang dilakukan dengan metodelogi kuesioner yang berisi tentang permainan tradisional enggrang batok yang digunakan dalam pembahasan junal
Bab V              : Kesimpulan dan Saran, dalam bab ini kami member kesimpulan atas masalah yang dibahas dan saran-saran yang dirasa perlu kami sampaikan pada pihak-pihak yang terlibat.
            Demikian gambaran-gambaran dari seluruh bahasan yang kami ajukan sebagai hasil dari penelitian Jurnal kami selama ini.

1.4.MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penetitian kami yaitu ;
·         Membuka pola pikir yang baru untuk memperbaiki diri  dan lebih peduli untuk masa depan bangsa.
·         Mengingatkan pada pembaca akan pentingnya budaya bangsa kita khususnya permainan tradisional yang merupakan karakter sebuah bangsa.
·         Mengingatkan pada kita bahwa sudahkah kita bercermin untuk bangga dan melestarikan budaya bangsa ?
·         Memberi motivasi pada pembaca untuk lebih menanamkan rasa cinta tanah air.










                                       
















Bab II
REVIEW LITERATURE

Kebudayaan + cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan Latin “colere”  yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”
Ditinjau dari saudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

Pendapat lain menatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.

Mengenai definisi “Kebudayaan”, telah banyak sarjana sarjana ilmu social yang mencoba menerangkan, atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya. Ada 2 orang sarjana antropologi yaitu A.L Kroeber dan C. kluckhohn, yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentanf paham kebudayaan yang termasuk dalam banyak buku-buku yang berasal dari banyak pengarang dan sarjana. Terbukti ada 160 macam definisi tentang kebudayaan, yang kemudian dianalisis dicari intinya dan klasifikasikan dalam berbagai golongan, dan kemudian hasil penyelidikan itu diterbitkan dalam suatu kitab bernama “Culture, A critical Review of Concepts and Definitions 1952”.
Adapun ahli Antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B Taylor, yang menulis dalam bukunya yang terkenal: “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Definisi lain dikemukakan oleh R. Linton dalam buku : :the Cultural background of personality” , bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
C. Kluckhohn dan W.H Kelly mencoba merumuskan definisi tentang kebudayaan sebagai hasil tanya jawab denga ahli-ahli antropologi, ahli hokum ahli psikologi, ahli sejarah, filsafat dan lain-lain. Rumusan itu berbunyi bahwa: kebudayaan adalah pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah, yang explisit, inplisit, rasional, irrasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman-pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.

Dari definisi-definisi tersebut diatas dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa bagi ilmu social, arti kebudayaan adalah amat luas, yang meliputi kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkan dengan belajar dan yang semuanya tersususn dalam kehidupan masyarakat. Dan didalam bahsa Inggris kata culture itu dalam abad yang lalu mengalami pergeseran arti sebagai berikut:
a.       A general state or habit of the mind.
b.      The general state of intellectual development in a Sosiety as a whole.
c.       The general body of the arts.
d.      A whole way of life, material, intellectual and spiritual.
Di dalam masyarakat ramai kebudayaan sering diartikan sebagai general body of the arts, yang meliputi seni sastra, seni music, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia. Dalam penggunaan seperti ini pengertian kebudayaan di tepmpatkan di samping pengertian ekonomi, politik, hokum, sedang dalam pengertian ilmu social kebudayaan adalah seluruh cara hidup sesuatu masyarakat.

Di samping definisi-definisi tersebut diatas, masih banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana-sarjan Indonesia, seperti:
1.      Sultan Takdir Alisyahbana : kebudayaan adalah manifestasi dari suatu bangsa.
2.      Dr. moh. Hatta : kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
3.      Mangunsarkoro : kebudayaan adalah segala bersifat hasil kerja manusia dalam arti yang seluas-luasnya.
4.      Haji agus salim : kebudayaan adalah merupakan persatuan istilah budi dan daya menjadi makna sejiwa dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
5.      Dawson dalam bukunya : “Age of the Gods”, kebudayaan adalah cara hidup bersama (Culture is a common way of life)
6.      E.B Taylor (sarjana Inggris) dalam bukunya : “Primitive Culture”  1873; Culture is that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom and any other capabilities acquired by man as a member of society. Maksunya : kebudayaan adalah suatu satu kesatuann ataiu jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, susila, hokum, adat-istiadat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
7.      Drs. Sidi Gazalba : kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia, yang membentuk kesatuan social dalam suatu ruang dan suatu waktu.
8.      R.Linton , kebudayaan adalah dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari,dimana unsure pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
9.      Selo Soermardjan dan Soelaeman Soenardi , mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya ,rasa ,dan cipta masyarakat .
10.  Herkovits , kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia .
11.   Murdowo , mengatakan bahwa kultur itu mengenai nilai kerohanian ,moral,etik,dan estetik yang telah dicapai oleh suatu bangsa .[1]

Sepintas lalu definisi-definisi tersebut kelihatan bebeda-beda, namun sebenarnya prinsipnya sama, yaitu sama-sama mengakui adanya ciptaan manusia. Dapatlah kiranya ini kita tarik kesimpulan bahwa : kebudayaan adalah hasil buah budi manusaia untuk mencapai keswempurnaan hidup.
Hasil buah budi (budaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi 2 macam:
1.      Kebudayaan material (lahir), yaitu kebudayaan yang berwujud kebendaan, misalnya : rumah, gedung, alat-alat senjata, mesin-mesin, pakaian dan sebagainya.
2.      Kebudayaan immaterial (spiritual=batin), yaitu : kebudayaan adat istiadat, bahasa, ilmu pengetahuan dan sebagainya.[2]

Definisi permainan tradisional egrang batok. Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti : sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.[3]






















Bab III
METODE PENELITIAN

Pengolahan dan penyajian data dalam penelitian ini, dilakukan secara kuantitatif. Menurut Nawawi, jenis penelitian kuantitatif memiliki prosedur yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dilakukan pengujian tenteng kebenaran atau tingkat validitas dan reliabilitas hasil penelitian berupa kesimpulan-kesimpulan yang dirumuskan peneliti. [4]

3.1. Teknik Pengumpulan Data

            Data-data merupakan faktor terpenting yang sangat diperlukan dalam penyusunan Jurnal ini, untuk memperoleh data-data tersebut maka kami menggunakan cara-cara berikut :
a.       Studi Kepustakaan (Library Research)
Data diperoleh dengan membaca dan mempelajari sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan ruang lingkup penelitian, baik berupa buku literature, tulisan ilmiah, dan dokumen-dokumen.
b.      Penelitian Lapangan (Field Research)
Untuk memperoleh data lapangan atau di lokasi penelitian digunakan cara :
1)      Teknik Kuesioner
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis kepada responden melalui daftar pertanyaan berdasarkan indicator yang ada, dimana setiap pertanyaan dilengkapi dengan beberapa alternative jawaban.

2)      Teknik Wawancara (Interview)
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung dengan responden. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik wawancara (interview guide) tidak dirumuskan secara ketat, guna memberikan keleluasaan kepada responden untuk mengekspresikan jawabannya. Secara khusus teknik ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui teknik kuesioner diatas.
3)      Teknik Observasi
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan mengadakan langsung terhadap obyek yang diteliti, dengan berada langsung di lokasi obyek penelitian, yaitu Lingkung Seni Sanggar Anggitasari dan Sanggar Boerayot di Parungkuda Kabupaten Sukabumi.
3.2. Instrumen Penelitian
            Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang diperlukan dengan menggunakan suatu metode yang merupakan transformasi konsep yang telah dioperasionalkan. Untuk pengumpulan data penulis menggunakan instrument penelitian  erupa kuesioner yang dibagikan kepada responden, berisi daftar pertanyaan yang merupakan penjabaran dari indicator-indikator penelitian.

















Bab IV
PEMBAHASAN
4.1.           BUDAYA
Memudarnya rasa cinta terhadap kebudayaan bangsa ini membuat kami tertarik mengangkat materi tentang minimnya bentuk apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan lokal khususnya dalam wujud permainan tradisional yang terlupakan seperti, permainan enggrang batok. Sebagaimana mestinya yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Koentjoroningrat tentang wujud kebudayaan.
Wujud pertama adalah wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba dan difoto. Letaknya dalam alam pikiran manusia. Sekarang kebudayaan ideal ini banyak tersimpan dalam arsip kartu computer, pita computer, dan sebagainya. Ide-ide dan gagasan manusia ini banyak yang hidup dalam masyarakat dan memberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan-gagasan itu tidak terlepas satu sama lain melainkan saling berkaitan menjadi suatu system, disebut system budaya atau cultural system, yang dalam bahasa indonesianya disebut adat istiadat.
Wujud kedua adalah wujud system social. Mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri. System social ini terdiri dari aktifitas-aktifitas manusia yang berinteraksi satu dan yang lainnya dari waktu kewaktu, yang selalu menurut pola tertentu. System social ini bersifat konkret, sehingga bias di observasi, difoto dan di documentir.
Wujud ketiga adalah yang disebut kebudayaan fisik, yaitu sangat konkret berupa benda-benda yang bisa diraba, difoto dan dilihat. Ketiga wujud kebudayaan tersebut diatas dalam kehidupan masyarakat tidak terpisah satu dengan yang lainnya. Kebudayaan ideal dan adat istiadat megatur dan mengarahkan tindakan manusia baik gagasan, tindakan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan secara fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamnya sehingga bisa mempengaruhi pola berpikir dan berbuatnya. [5]
Namun seiring berkembangnya zaman, kebudayaan di Indonesia mulai luntur. khususnya kebudayaan lokal di bidang permainan tradisional. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi yang mempunyai dampak negatif terhadap kebudayaan Indonesia. Budaya global semakin lama telah menggusur budaya lokal Indonesia. 
Kebudayaan  nasional adalah  kebudayan  kita bersama yakni kebudayaan yang mempunyai makna bagi kita bangsa indonesia. Kalau bukan kita lalu siapa lagi yang akan menjaga dan  melestarikannya. Seharusnya sebagai warga negara indonesia patut bangga dengan mempunyai kekayaan budaya. Hal ini sebenarnya akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Sebagai warga negara kita hendaknya menanggapi dengan arif pengaruh nilai-nilai budaya barat untuk mengembangkan dan memperkaya, serta meningkatkan kebudayaan nasional dengan cara menyaring kebudayaan itu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil nilai yang baik dan meninggalkan nilai yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita.
Arus modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit untuk dikendalikan , terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk keseluruh belahan dunia, hal ini membawa pengaruh bagi seluruh bangsa didunia termasuk didalamnya budaya indonesia
Arus informasi yang berkembang cepat menumbuhkan cakrawala pandangan manusia makin terbuka luas. Ternologi yang sebenarnya merupakan alat bantu atau ekstensi kemampuan diri manusia, dewasa ini telh menjadi sebuah kekuatan otonom yang justru membelenggu prilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya yang sangat besar, karena ditopang pula oleh sistem-sistem sosial yang kuat, dan dalam kecepatan yang makin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup manusia. Masyarakat yang rendah kemampuan teknologinya cenderung tergantung dan hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi.
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ,maka dunia makin sempit ruang dan waktu menjadi sangat relatif dan banyak hal , batas-batas negara sering menjadi kabur dan bahkan mulai tidak relevan dingding pembatas antar bangsa menjadi semakin terbuka bahkan mulai hanyut oleh arus perubahan. Oleh karena itu, indonesia menghadapi kewajiban ganda yaitu disatu pihak melestarikan budaya bangsa dan dipihak lain membangun kebudayaan nasional yang modern.
Tujuan akhir dari kedua usaha atau kewajiban ini menurut indra siswarini[6] adalah masyarakat modern yang tipikal indonesia, masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu dan teknologi modern maupun menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat kearah pola hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Akibat globalisasi diantaranya masyarakat mengalami anomi atau tidak punya norma atau heteronomi atau banyak norma sehingga terjadi kompromisme sosial terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap melanggar norma tunggal masyarakat .
Selain itu juga terjadinya disorientasi atau aliienasi, keteransingan pada diri sendiri atau pada perlaku sendiri akibat pertemuan budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian kita .
Kesenian dan kebudayaan merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kesenian dapat menjadi wadah untuk mempertahankan identitas budaya Indonesia. Faktanya, sekarang ini identitas budaya Indonesia sudah mulai memudar karena arus global. Sehingga kondisi yang mengkhawatirkan ini perlu segera diselamatkan. Hal ini semakin diperparah dengan diakuinya budaya indonesia oleh bangsa lain. Hal ini disebabkan oleh kurang pedulinya bangsa indonesia terhadap budayanya. Namun ketika kebudayaan itu diakui oleh bangsa lain, indonesia bingung.
Dengan berkurangnya tingkat kesadran masyarakat indonesia terhadap kebudayaan lokal khususnya permainan tradisional, lambat laun permainan tradisional yang sudah diwariskan oleh nenek moyang terlupakan dan terpengaruh oleh permainan modern yang semakin canggih. Sehingga masyarakat indonesia lebih tertarik kepada permainan modern terebut. Maka dari itu tak heran jika saat ini kita sangat jarang melihat permainan tradisional dimainkan oleh masyarakat indonesia.
Masyarakat indonesia telah mengenal permainan enggrang batok, namun pada saat ini mereka sebatas mengenal enggrang batok sebagai permainan yang dimainkan  disaat adanya perayaan-perayaan hari besar yang ada di indonesia. Hal ini lah yang menyebabkan permainan enggrang batok kurang dikenal oleh msyarakat indonesia.

Menyerapnya budaya Negara luar di Indonesia telah membuat para masyarakat terutama generasi muda di Negara kita tidak suka bahkan tidak sedikit dari mereka yang melupakan budaya negerinya sendiri. Termasuk pemerintah yang tidak mengindahkan budaya negeri ini dengan tidak adanya perhatian dan kurangnya fasilitas yang memungkinkan untuk mengembangkan perkembangan budaya di negeri ini.

5.2. Permainan Tradisional Engrang Batok

Pada permainan batok kelapa alat yang dipergunakan adalah dua buah batok kelapa yang dibagi dua sehingga berbentuk setengah bola. Pada bagian tengahnya dilubangi dan dipasangi tali yang menghubungkan antara satu batok dengan batok lainnya sepanjang kira kira 1,5 – 2 meter. Permainannya adalah berlomba secepat mungkin berjalan menggunakan batok kelapa tadi dari satu sisi lapangan ke sisi lapangan lainnya. Orang yang paling cepat ia lah yang menjadi pemenangnya.
Asal-usul dari Engrang Batok ialah jenis terakhir dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa yang dipadu dengan tali plastik atau dadung. Fungsi utama sama, seperti alat dolanan lain, yakni diciptakan dan dibuat untuk bermain bagi dunia anak. Permainannya pun cukup mudah. Anak-anak sekarang memang tidak harus memainkan kembali permainan-permainan tradisional, termasuk dolanan engrang batok. Namun paling tidak generasi tua saat ini bisa mengenalkan kepada generasi muda sekarang. Tentu dengan harapan agar generasi muda sekarang bisa mengenal sejarah kebudayaan nenek moyangnya, termasuk dalam lingkup permainan tradisional dan akhirnya bisa menghargai karya dan identitas bangsanya sendiri walaupun teknologi yang diterapkan kala itu sangat sederhana. 
Permainan tradisional yang menggunakan alat seperti permainan engrang batok ini, pada umumnya bahan dasarnya banyak diperoleh di sekitar lingkungan anak. Batok dalam bahasa Indonesia disebut tempurung. Tempurung yang dipakai biasanya berasal dari buah kelapa tua yang telah dibersihkan dari sabutnya. Kemudian tempurung itu dibelah menjadi dua bagian. Isi kelapa dikeluarkan dari tempurung. Tempurung yang terbelah menjadi dua bagian ini kemudian dihaluskan bagian luarnya agar kaki yang berpijak di atasnya bisa merasa nyaman. Masing-masing belahan tempurung kemudian diberi lubang di bagian tengah. Masing-masing lubang tempurung dimasuki tali sepanjang sekitar 1,5 - 2 meter dan diberi pengait. Tali yang digunakan biasanya tali lembut dan kuat, bisa berupa tali plastik atau dadung yang terbuat dari untaian serat. Jadilah sebuah permainan tradisional yang disebut engrang batok.
Para peserta permainan engrang batok kelapa tidak terbatas untuk dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga kadang dipakai untuk bermain anak perempuan antara usia 6-12 tahun, (TK B, Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP)), akan tetapi tidak menutup kemungkinan permainan ini dilakukan oleh orang dewasa.

Permainan tradisional Engrang Batok Kelapa tidak bisa dimainkan di dalam ruangan, melainkan harus dimainkan di luar rumah, khususnya di tanah lapang yang berukuran luas dan tidak terbatas. Selain itu, permainan Engrang Batok Kelapa sebaiknya dimainkan di tempat yang beralaskan tanah, bukan di ubin atau alas lantai lainnya yang berkontur keras. Sedangkan waktu untuk memainkan permainan Engrang Batok Kelapa sebenarnya tidak terbatas, namun biasanya permainan ini dimainkan pada waktu pagi, siang dan menjelang sore hari.
Cara memainkannya dengan kaki diletakkan ke atas masing-masing tempurung, kemudian kaki satu diangkat, sementara kaki lainnya tetap bertumpu pada batok lain di tanah seperti layaknya berjalan. Permainan Engrang Batok Kelapa bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Kadang-kadang, permainan ini di masa-masa lalu, biasa pula dipakai untuk perlombaan. Tentu di sini anak diuji ketangkasan dan kecepatan berjalan di atas Engrang Batok Kelapa. Anak yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh dianggap sebagai pemenang. Namun sering pula secara individu anak bermain egrang bathok dalam situasi santai.
Manfaat Permainan Anak menjadi lebih kreatif Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah umum digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
Bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak. Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukannya kondisi tersebut. Melatih insting dan ketepatan dalam bertindak. Dengan memainkan permainan Engrang Batok Kelapa, seseorang akan berusaha memaksimalkan instingnya agar memperoleh hasil yang baik. Selain itu, permainan ini juga akan membiasakan seseorang berpikir cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu.
Meningkatkan ketahanan fisik maupun mental. Dengan melakukan permainan Engrang Batok Kelapa, ketahanan tubuh seseorang akan meningkat karena permainan ini membutuhkan aktivitas fisik yang cukup prima. Selain itu, ketahanan mental pun akan meningkat karena dalam permainan ini juga menuntut kestabilan mental.  Melatih sportivitas dalam berkehidupan. Terkadang, permainan Engrang Batok Kelapa dimainkan dalam bentuk kelompok atau sebagai perlombaaan. Sehingga sportivitas harus tetap dijunjung.
Memupuk tingkat sosialisasi dalam pergaulan. Permainan ini bisa dimainkan dalam bentuk perlombaan, jadi tidak menutup kemungkinan ada sosialisasi antar pemainnya.  Menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal. Permainan Engrang Batok Kelapa merupakan produk asli Indonesia, dengan memainkan alat permainan tradisional ini, secara langsung dapat melestarikan kebudayaan yang dimiliki Negara kita.



[1] Murdowo,Arti Kata Kebudayaan, Pewarta PPK,1955,hal 132
[2] Drs. Joko Tri Prasetya, dkk, Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, hal 28-31
[3] http://anasmapalasta.wordpress.com/2009/12/11/.,di unduh pada tanggal 22 januari 2013
[4] Hadari Nawawi, opcit, hal 26
[5] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, Hal 301-302
[6] Indra Siswarini dalam Elly M Setiadi, et.al.,op.cit., hal 60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar